Suud Fuadi Weblog

Kemerdekaan adalah Hidup dalam Kesejahteraan

KUDA LUMPING SIMBOL PERLAWANAN TERHADAP ELIT, BUDAYA YANG TERPINGGIRKAN Juni 14, 2008

Filed under: budaya — suudfuadi @ 1:30 pm
Tags: , , , ,

Oleh: Suud Fuadi

Baru-baru ini kita mendapati berita menarik tentang diklaimnya Reog Ponorogo oleh Malaysia dan menamainya dengan Barongan. Itu tidak terlepas dari minimnya perhatian pemerintah dan generasi muda kita terhadap aset-aset budaya bangsa. Kondisi demikian bias jadi akan terus berulang dan bukan tidak mungkin kalim serupa akan terjadi pada seni Kuda Lumping. Kuda lumping kini tak lebih hanya sekedar tontonan dan peninggalan budaya yang keberadaannya makin tergerus oleh masuknya budaya-budaya asing. Kuda Lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan menaiki kuda tiruan atau kuda bohong ia disebut dalam syair lagu dangdut yang terbuat dari anyaman bambu (kepang). Dalam memainkan seni ini biasanya juga diiringan dngan musik khusus yang sederhana karena hanya permainan rakyat, yaitu dengan gong, kenong, kendang dan slompret, alat musik tradisional yang kini tidak lagi dikenal oleh anak-anak generasi muda kita karena telah tergantikan oleh dram, gitar dan lainnya.

Tidak diketahui secara pasti mengenai asal-usul permainan ini, karena telah disebut oleh banyak daerah sebagai kekayaan budayanya. Hal ini terjadi karena si pencetusnya tidak mematenkan permainan ini sehingga bisa dimainkan oleh siapapun.di Jawa Timur saja seni ini akrab dengan masyarakat dibeberapa daerah, sebut saja Malang, Nganjuk dan Tulungagung, disamping daerah-daerah lainnya. Jika dilihat dari model permainan ini, yang menggunakan kekuatan dan kedigdayaan, besar kemungkinan berasal dari daerah-daerah kerajaan di Jawa.

Panggung rakyat dan perlawanan terhadap penguasa

Pada masa kekuasaan pemerintahan Jawa dijalankan dibawah kerajaan, aspirasi dan ruang bergumul rakyat begitu dibatasi, karena perbedaan klas dan alasan kestabilan kerajaan. Meski dalam kondisi tertekan, rakyat tidaklah mungkin melakukan perlawanan secara langsung terhadap penguasa. Rakyat sadar bahwa untuk melakukan perlawan, tidak cukup hanya dengan bermodalkan cangkul dan parang, namun dibutuhkan kekuatan dan kedigdayaan serta logistic yang cukup. Menyadari hal itu, akhirnya luapan perlawanan yang berupa sindiran diwujudkan dalam bentuk kesenian, yaitu kuda lumping. Sebagai tontonan dengan mengusung nilai-nilai perlawanan, sebenarnya kuda lumping juga dimaksudkan untuk menyajikan tontonan yang murah untuk rakyat. Disebut sebagai tontonan yang murah meriah karena untuk memainkannya tidak perlu menghadirkan peralatan musik yang banyak sebagaimana karawitan. Diplih kuda, karena kuda adalah simbol kekuatan dan kekuasaan para elit bangsawan dan prajurit kerajaan ketika itu yang tidak dimiliki oleh rakyat jelata. Permainan Kuda Lumping dimainkan dengan tanpa mengikuti pakem seni tari yang sudah ada dan berkembang dilingkungan ningrat dan kerajaan. Dari gerakan tarian pemainnya tanpa menggunakan pakem yang sudah mapan sebelumnya menunjukkan bahwa seni ini hadir untuk memberikan perlawanan terhadap kemapanan kerajaan.

Selain sebagai media perlawanan seni Kuda Lumping juga dipakai oleh para ulama sebagai media dakwah, karena kesenian Kuda Lumping merupakan suatu kesenian yang murah dan cukup digemari oleh semua kalangan masyarakat, seperti halnya Sunan Kalijogo yang menyebarkan Islam atau dakwahnya lewat kesenian Wayang Kulit dan Dandang Gulo, beliau dan para ulama jawa juga menyebarkan dakwahnya melalui kesenian-kesenian lain yang salah satunya adalah seni kuda lumping,

Bukti bahwa kesenian ini adalah kesenian yang mempunyai sifat dakwah adalah dapat dilihat dari isi cerita yang ditunjukan oleh karakter para tokoh yang ada dalam tarian Kuda Lumping, tokoh-tokoh itu antara lain para prajurit berkuda, Barongan dan Celengan. Dalam kisahnya para tokoh tersebut masing-masing mempunyai sifat dan karakter yang berbeda, simbul Kuda menggambarkan suatu sifat keperkasaan yang penuh semangat, pantang menyerah, berani dan selalu siap dalam kondisi serta keadaan apapun, simbul kuda disini dibuat dari anyaman bambu, anyaman bambu ini memiliki makna, dalam kehidupan manusia ada kalannya sedih, susah dan senang, seperti halnya dengan anyaman bambu kadang diselipkan keatas kadang diselipkan kebawah, kadang kekanan juga kekiri semua sudah ditakdirkan oleh yang kuasa, tinggal manusia mampu atau tidak menjalani takdir kehidupan yang telah digariskan Nya, Barongan dengan raut muka yang menyeramkan, matanya membelalak bengis dan buas, hidungnya besar, gigi besar bertaring serta gaya gerakan tari yang seolah-olah menggambarkan bahwa dia adalah sosok yang sangat berkuasa dan mempunyai sifat adigang, adigung, adiguno yaitu sifat semaunnya sendiri, tidak kenal sopan santun dan angkuh, simbul Celengan atau Babi hutan dengan gayanya yang sludar-sludur lari kesana kemari dan memakan dengan rakus apa saja yang ada dihadapanya tanpa peduli bahwa makanan itu milik atau hak siapa, yang penting ia kenyang dan merasa puas, seniman kuda lumping mengisyaratkan bahwa orang yang rakus diibaratkan seperti Celeng atau Babi hutan.

Sifat dari para tokoh yang diperankan dalam seni tari kuda lumping merupakan pangilon atau gambaran dari berbagai macam sifat yang ada dalam diri manusia. Para seniman kuda lumping memberikan isyarat kepada manusia bahwa didunia ini ada sisi buruk dan sisi baik, tergantung manusianya tinggal ia memilih sisi yang mana, kalau dia bertindak baik berarti dia memilih semangat kuda untuk dijadikan motifsi dalam hidup, bila sebaliknya berarti ia memlih semangat dua tokoh berikutnya yaitu Barongan dan Celengan atau babi hutan.

Banyak orang yang salah paham dalam memaknai seni Kuda lumping, mereka beranggapan bahwa para pelaku seni kuda lumping adalah pemuja roh hewan seperti roh kuda, anggapan itu adalah salah, simbul kuda disini hanya diambil semangatnya untuk memotifsi hidup, sama halnya dengan seporter sepak bola di Indonesia, di kota Malang misalnya, mereka menganggap bahwa dirinya adalah Singo Edan, seporter bola di Surabaya mereka menamakan dirinya Bajol Ijo, bahkan Negara Indonesia sendiri menggunakan sosok hewan sebagai lambang Negara yaitu seekor burung Garuda, yang kesemuanya itu adalah nama-nama hewan, jadi merupakan hal yang salah bila kesenian Kuda Lumping dianggab kelompok kesenian yang mendewakan hewan.

Sekelompok orang juga beranggapan bahwa kesenian Kuda Lumping dengan dengan kemusyrikan karena identik dengan kesurupan atau kalap, kemenyan, dupa dan bunga bungaan, anggapan bahwa kuda lumping dekat dengan kemusyrikan adalah tidak benar, justru para pelaku seni Kuda Lumping berusaha mengingatkan manusia bahwa di dunia ini ada dua macam alam kehidupan, ada alam kehidupan nyata dan alam kehidupan Gaib hal ini telah dijelaskan dalam Alqur`an surat Anas dan manusia wajib untuk mengimaninya. Fenomena kalap atau kesurupan bisa terjadi dimana saja dan dapat menimpa siapa saja, baik dikalangan arena Kuda Lumping maupun tempat-tempat formal seperti Sekolahan atau Pabrik, hal itu tergantung pada kondisi fisik dan Psikologis individu yang bersangkutan, sedangkan kemenyan, dupa dan bunga-bungaan tidak lebih dari sekedar wewangian yang tidak pernah dilarang dalam Islam bahkan dianjurkan penggunaanya.

Selain para tokoh yang telah disebutkan, dalam kesenian kuda lumping warna juga memiliki makna, warna yang dominan dalam kesenian ini ada tiga, warna merah, hitam dan putih, masing-masing warna tersbut secara filosois juga memiliki makna yang berbeda, warna merah melambangkan kebernian, kewibawaan dan semangat kepahlawanan, warna putih melambangkan kesucian, makna kesucian disini adalah kesucian pikiran dan hati yang akan direfleksikan dalam semua panca indera sehingga menghasilakan suatu tindak-tanduk yang selaras dan dapat dijadikan panutan, warna hitam

Seni Kuda lumping merupakan jenis kesenian rakyat yang sederhana, dalam pementasanya tidak diperlukan suatu koreografi khusus serta perlengkapan peralatan gamelan seperti halnya karawitan, gamelan untuk mengiringi seni kuda lumping cukup sederhana, hanya terdiri dari satu buah kendang, dua buah kenong, dua buah gong dan sebuah selompret, sajak-sajak yang dibawakan dalam mengiringi tarian semuanya berisikan himbauan agar manusia senantiasa melakukan perbuatan baik dan selalu eling ingat pada sang pencipta.

Secara filosofis masing-masing alat musik yang digunakan dalam mengiringi tari kuda lumping juga memiliki makna yang berbeda, kendang berbunyi ndang…ndang…tak…ndlab mempunyai makna yen wis titiwancine ndang-ndango mangkat ngadeb marang pengeran yang mempunyai arti kalau sudah waktunya cepat-cepat bangun menghadap tuhanmu, dalam melakukan ibadah jangan suka ditunda-tunda kenong ……. Slompret ……. Gong ……..

 

13 Responses to “KUDA LUMPING SIMBOL PERLAWANAN TERHADAP ELIT, BUDAYA YANG TERPINGGIRKAN”

  1. edy wahyu kurniawan Says:

    ud asik tulisane hehehe…. iki aku ud…. gawe blok koyoe kok ruwet banget yo…

  2. zegoviinaaaaa Says:

    bleblebblebleblebbbbbbbbbbbbbbb

    keblebeken

    bluppppppzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz

    hahahahahahahahahahahaha!!!!
    lgi ksurupaan nie……….gi maen kuda lumping c……….

  3. mulianozh Says:

    mr.ponijan…….tugasna kie iki///////////

  4. budisan68 Says:

    ko iso ae… yo wis salam kenal

  5. Noto Says:

    Biar lebih akrab, jangan dijuluki kuda lumping dong. gk gaul, and gk napak. ya bener itu, EMBLEG. . . kang.

    kata siapa embleg, hburan yg murah, salah. di tempatku, banjarsari, sewa embleg ada yang tembus sampai 70 juta. Hebat kan, EMBLEG. . emang gaul. .

  6. Douglas Says:

    Sing bener sajane iku EBEG bukan ebleg/ kuda kepang, itu memang lambang keberanian para prajurit kerajaan dahulu karena pada saat itu satu satunya mobilisasi yg dapat diandalkan untuk kebutuhan apa saja bagi kehidupan manusia ya hanya binatang, nah binatang yg dianggap paling mumpuni baik dari sisi tenaga, kelincahan dll ya mung JARAN sing kanggo tumpakan.
    Setelah jaman kerajaan wis bubar kabeh untuk mengenang perjuanganya diciptakan kesenian oleh para seniman jaman biyen yang diberi nama macem2 ada yg menyebut Kuda Lumping, Jatilan , Ebeg2an dan nama itupun tidak baku kerena mengikuti budaya yg berkembang di suatu daerah tertentu, mis. reog juga dikawal oleh tarian kuda lumping , nah ngono ta iyo !!! wis lah matur nuwun. Douglas.

  7. Huzairi Says:

    Salam perkenalan sahabat, aku tertarik dengan pandangan dalam menterjemahan tentang kuda kepang, tapi ingin sekali mengetahui mengenal asal usul kuda kepang ini,asalnya negeri mana, waktu zamannya apa, kalau di bandingkan dgn wayang wong cerita tarinya banyak kepada cerita waktu zaman penganut hindu, tapi kalau kuda kepang aku kurang jelas. kalau bisa bantuin aku untuk mendapat di mana dapat aku temukan keterangan2 yang lebih terperinci.
    Trima kasih.

  8. prim Says:

    salam kenal…mas..

    nandhi-nandhi nek wong jowo ..mesti ngembangke budoyone dewe. barusan iki eneng acara mengenang perpindahan wong jowo neng suriname. kebudayaan jowo neng suriname yo berkembang pesat.. ! kuda lumping yo neng.. jajal golek i neng youtube.. kuncine “budaya jawa di suriname”.. pokok e mantep..

  9. buyung setia Says:

    betul kuda lumping ada kesenian daerah di tempatku juga ada kuda letaknya kalo pengin liat di kebumen,panjer namanya kesenian ebleg ruwat singa mataram di internet juga ada tinggal ketik singa mataram barongan juga udah dari dulu sebelum aku lahir hebatkan

  10. buyung setia Says:

    oya aku takon kenapa kuda lumping kakinya gak bisa jln jadi sama aja bohong

  11. julio java jodgaz Says:

    Ngakakkkk -baca Coment Sebelumnya hahahahaha_ bragam bhsa yg di gunakan mjwab ,,..,.

    so yg pasti bangga lah punya Budaya seprti ni,,

    n gw stju bngt KUDA LUMPING SIMBOL PERLAWANAN TERHADAP ELIT, BUDAYA YANG TERPINGGIRKAN
    cz jiwa muda skrg anggap budya ni KUNO,, Pdahal Wong LONDHo (BULE ) Aja belajar smpe nginep di INdonesia )) Hah Ga Bangga Pa kalian ,, punya budaya yg agung.//

  12. Mutaal Patas Says:

    Terima kasih saya ucapkan kepada penulis diatas (Suud Fuadi) yang telah memberikan semangat dan wawasan kepada kaum muda betapa pentingnya budaya daerah,karena kebudayaan itu adalah ciri khas daerah dan sekaligus merupakan budaya bangsa yang tidak boleh diambil/diklaim oleh daerah lain,apalagi negara lain. Untuk itu mari kita sama-sama menjaga dan melestarikan kebuadayaan daerah kita masing2. Dan bila perlu kita padukan antara kebudayaan daerahku (Sumsel) dengan kebudayaan Jatim. Terimakasih

  13. puji setiono Says:

    imblik atau kuda kepang juga ada di sini di desa ku desa pagar jati BENGKULU-TENGAH.dari aku bayi udah ada mpek skrng.he


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.