Suud Fuadi Weblog

Kemerdekaan adalah Hidup dalam Kesejahteraan

MUHASABAH DAN EVALUASI DIRI Juni 15, 2008

Filed under: agama — suudfuadi @ 2:20 am
Tags: , , , , , , ,

Oleh: suud fuadi

Istilah Muhasabah mungkin sudah berulang kali kita dengar, namun meski acapkali kita dengar tetap saja tidak mau bermuhasabah. Muhasabah berasal dari kata hasibah yang artinya menghisab atau menghitung. Praktek muhasabah hampir sama dengan praktek evaluasi dalam sebuah perusahaan, organisasi atau kegiatan lainnya. Namun tinjauan dalam praktek muhasabah tentu lebih dalam, karena ia berusaha mengevaluasi hidup di dunia dalam hubungannya dengan akhirat. Kehidupan manusia di dunia dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia dan dengan alam semesta selalu memiliki keterkaitan dengan kehidupan paska dunia, yakni akhirat.

Fitrah manusia, ia dilahirkan dalam kesucian dan memikul tanggung jawab mulia sebagai abdi Tuhan. Tuhan dalam firmannya, menyatakan bahwa: “Tidak Aku (Tuhan) ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembah kepadaku”. Dengan jelas Firman Allah ini menjadikan manusia bukan untuk yang lainnya namun hanya untuk menyembah kepadaNya. Tanggung jawab itu telah diterima manusia sejak ia dalam kandungan, yang pada saat itu Allah bertanya kepada manusia: “Tahukan siapa Tuhanmu?lalu manusia menjawab; ia, saya bersaksi”. Kesaksian atau keimanan manusia atas Tuhan inilah yang menjadi tonggak awal dimulainya ibadah. Nah pertanyaannya, sudah benarkah kesaksian dan keimanan kita kepada Tuhan Allah?disinilah letak muhasabah untuk tahap pertama.

Sesudah evaluasi diri terhadap keimanan selesai, maka tahap kedua adalah sudahkah amaliah dan kompetensi kita mengarah kepada penghambaan terhadap Tuhan Allah SWT? Amal perbuatan kita di dunia terbangun atas tiga pola hubungan yang kesemuanya harus didasarkan pada penghambaan diri terhadapNya. Pertama, hubungan manusia dengan Allah (hablun minallah). Secara syar’i hubungan manusia dengan Allah dibangun melalui ibadah-ibadah mahdhoh. Ibadah mahdoh ini merupakan aktualisasi dan implementasi dari perintah syari’ah untuk menunaikan rukun islam, yakni perintah bersyahadat, perintah sholat, perintah zakat, perintah puasa dan perintah haji ke baitullah. Meskipun bentuknya berupa ibadah suci untuk mendekatkan diri pada Allah, namun kebanyakan dari kita lalai dalam sholatnya, lalai dalam zakatnya, lalai dalam puasanya dan lalai dalam berhajinya. Sholatnya, zakatnya, puasanya dan hajinya bukan murni karena Allah, namun karena pamrih. Ibadahnya hanya kerena orang tuanya, istrinya, bosnya, pacarnya atau bahkan karena muatan politis. Oleh karenanya mari kita mengevaluasi diri apakah ibadah kita kepada Allah sudah murni dari unsur-unsur selainNya?

Kedua, hubungan sesama manusia (hablun minannas). Hubungan kita dengan sesama manusia harus didasarkan pada niat untuk memeproleh ridhoNya. Hubungan kita dengan yang lainnya harus tidak didasarkan atas eksploitasi dan subordinasi, namun diletakkan atas dasar persamaan sebagai hamba Tuhan dan proporsionalitas dalam menunaikan tugas dan menuntut hak. “Nah, sudahkan kita memperlakukan teman kita, pemimpin kita, rakyat kita, istri atau suami kita, pembantu kita, mahasiswa kita dan semua orang disekeliling kita sebagai manusia seutuhnya?” Rosulullah bersabda: tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya sesama manusia sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Menghormati hak-hak orang lain sama halnya menghormati hak-hak kita sendiri, karena dengan begitu orang lain akan menghargai hak-hak kita dan tentu kesemuanya harus diletakkan hanya karena Allah.

Ketiga, hubungan manusia dengan alam (hablun minal alam). Alam diciptakan oleh Tuhan bukan untuk dieksploitasi dan manusia tidak diciptakan untuk mengeksploitasi alam, namun ia diciptakan untuk keseimbangan keseluruhan alam termasuk manusia. Allah sudah mempertimbangkan dengan masak-masak bahwa alam sangat cukup bila hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan manusia namun tidak bila untuk keserakahan manusia. Antara alam dengan manusia terjadi pola hubungan yang setimpal. Apabila manusia merusak alam, maka alam akan memberikan kerusakan pula bagi manusia, begitu juga sebaliknya alam akan memberikan kenyamanan bagi manusia jika ia dipelihara dengan baik oleh manusia. Dalam hubungan ini antara manusia dan alam adalah sejajar dan saling membutuhkan. Apabila pola hubungan ini diterapkan dengan baik maka sama halnya kita menciptakan kehidupan yang lebih lama dan ini sama dengan menjalankan perintah Tuhan untuk memberikan kehidupan dan bukan kerusakan atau kematian.

Tahap ketiga, Istiqomah (konsistensi). Keimanan dan amaliah kita harus dijalankan dengan penuh istiqomah (ajeg) atau konsisten. Allah berfirman: berimanlah kepada Allah kemudian beristiqomahlah. Kita tidak mungkin mendapatkan sesuatu dengan baik jika tidak istiqomah. Istiqomah tidak sama dengan statis, namun istiqomah akan memberikan dorongan kepada kita untuk hidup dinamis.

Tiga tahap itu pada dasarnya juga merupakan prasyarat untuk terwujudnya budaya ketuhanan (robbaniyah) dan keagamaan dalam hidup bermasyarakat. Tuhan tidak mungkin akan memberikan servis quality kepada kita jika kita tidak memberikan harga yang setimpal atas pemberian Tuhan, dengan bersyukur dan beribadah. Dengan melalui tiga tahap itulah muhasabah kita akan mudah kita lakukan dan terukur hasilnya. Akhir dari tulisan ini, mari kita mulai dari diri kita sendiri sebelum menyeru kepada orang lain, apakah kita sudah menjadi manusia seutuhnya sebagaimana fitrah kemanusiaan kita? Jawabannya adalah mari kita bermuhasabah diri saat ini dan disini juga.

Akhirnya, semoga tulisan ini bermanfaat dan selamat bermuhasabah……!!!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s